
Everybody deserves a second chance... Kata-kata semacam itu tentunya sering kali kita dengar. Tapi apakah sebenarnya makna dari "Kesempatan Kedua" itu??? Seberapa sering kita mendapatkan kesempatan kedua? Atau sebaliknya seberapa sering kita memberikan kesempatan kedua kepada orang lain??
Bagi beberapa orang (mungkinkah berlaku juga untuk semua orang?) kesempatan tidak akan datang setiap saat. Dan sekali saja kita melewatinya, kesempatan yang sama belum tentu akan kembali lagi. Pertanyaannya, mampukah kita memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang membutuhkannya?? Ataukah mereka harus terus menunggu dan berharap hingga berputus asa karena kesempatan kedua itu tak pernah tiba??
Sebenarnya kedengaran cukup mudah bagi kita untuk memberi kesempatan kedua, toh kita tidak akan kehilangan apapun. Tapi masalahnya, kesempatan itu berhubungan dengan perasaan kita. Misalnya saja, bila seseorang berbuat salah kepada kita berulang-ulang kali, maka kita akan berhenti percaya kepadanya. Ini juga terjadi kepada saya. Tadinya saya memiliki seorang teman di kelas yang bisa dibilang cukup dekat dengan saya. Awalnya saya mengira ia orang yang baik karena sikapnya yang manis dan menyenangkan. Tapi ternyata semua itu hanyalah kedoknya untuk memanfaatkan pertemanan kami. Saya bukan orang yang mudah untuk dibodohi dan diperalat, tapi saya tetap memberinya kesempatan untuk berubah. Sampai pada puncaknya, saya benar-benar sudah tak tahan lagi dan memutuskan untuk berpisah dengannya. Kenyataannya tanpa dia saya merasa hidup ini jauh lebih baik. Saya sama sekali tak merasa menyesal telah membuat keputusan semacam ini karena semua perbuatannya pada saya sudah tak dapat dimaafkan lagi. Saya telah memberinya banyak sekali kesempatan untuk merubah sikapnya, entah berapa kali yang pasti tidak hanya kesempatan kedua, tapi juga ketiga, keempat, dan seterusnya. Dan kesempatan itu kini telah habis.
Dari pengalaman saya, saya membuktikan bahwa memberikan kesempatan kedua memang tidaklah mudah. Karena kita harus siap untuk disakiti lagi walau dalam hati berharap ia akan memanfaatkannya dengan baik dan sungguh-sungguh berubah. Tapi saya hanya manusia biasa, dan kesabaran saya pun ada batasnya. Pada akhirnya saya akan menyerah juga dan berhenti memberikan kesempatan itu. Karena permasalahannya bukan lagi pada saya, tapi pada dia.
Saya tak habis pikir, bagaimana Tuhan mengajarkan kepada kita untuk selalu memberi maaf pada mereka yang bersalah kepada kita. Memberi maaf, okay, cukup mudah. Tapi memberikan ia kesempatan lagi?? Tunggu dulu. Saya tak mau dibodohi lagi, saya tak mau diperalat lagi. Tapi bukankah Tuhan tak hanya memberi maaf tapi juga memberikan kesempatan lagi?? Ia tak pernah merasa lelah untuk memberikan kita kesempatan lagi dan percaya bahwa suatu saat kita benar-benar akan memanfaatkan kesempatan itu untuk berubah. Kita mungkin akan berkata, "Saya bukan Tuhan jadi wajar donk kalo kita tidak sebaik Tuhan??" Benar sih, memang begitulah kenyataannya. Lha wong Tuhan aja pernah marah, masa kita sebagai manusia ga bisa marah? Sabarnya kita ya ga sepanjang sabarnya Tuhan dunk..
Sebagai kesimpulannya, menurut saya sebagai manusia yang penuh kelemahan, sebaiknya kita belajar untuk menjadi bijaksana. Ada kalanya memang kita harus memberikan kesempatan kedua bagi sesama kita, tapi bila memang sudah berkali-kali kita memberikan, dan berkali-kali ia tidak mempergunakan kesempatan itu dan malah mencelakai bahkan merugikan kita. Ya sudah. Tak ada lagi kesempatan, sampai orang itu benar-benar berubah. Doakan saja dia bila kita benar-benar menyayanginya, semoga suatu saat ia bisa berubah. Entah dengan cara apa, mungkin saja dari sikap kita juga bisa merubahnya. Tapi yang pasti jalan Tuhan pasti baik untuk semua pihak, walaupun sekarang tampaknya buruk tapi nantinya akan jadi indah pada waktunya...




Tidak ada komentar:
Posting Komentar